Langsung ke konten utama

terlalu baik kadang malah tidak baik

Pernah gak ngerasa serba gak enak hati atau merasa terbebani sama temen sendiri? Terkadang sebagai teman kita ingin ngelakuin apa saja asalkan teman kita senang dan membantu kalo mereka sedang kesusahan. Tapi karena terlalu mikirin teman kita lupa mikirin diri sendiri, niatnya membantu malah kita sendiri yang susah, niatnya baik tapi ujung-ujungnya kita yang disalahin. Ada tipe orang yang gak tegaan sama orang lain apalagi temen deket dan susah nolak kalo dimintain tolong, salah satunya adalah aku sendiri. Sering dinasehatin, kamu itu jangan terlalu baik sama orang nanti malah kamu yang dimanfaatin sama mereka, kalo kamu gak bisa ya bilang gak bisa bukan bilang bisa tapi kamu sendiri yang kesusahan, toh mereka juga gak mikirin kamu lagi susah apa gak. Baik sih boleh tapi terlalu baik sampe nyusahin diri sendiri itu yang gak boleh, bantuin orang lain semampunya aja.
*ndengerin sambil mewek*
Berusaha menjadi orang yang lebih tegas lagi, aku juga gak mau jadi temen yang jahat karena dengan terlalu baik mau ngelakuin apapun buat teman itu bisa bikin teman yang kita bantu jadi gak bisa mandiri, gak bisa belajar untuk mengandalkan diri sendiri. Terimakasih niyya my roomate mungkin omonganmu kadang terdengar jahat tapi itu yang membuatku sadar bahwa aku juga salah dan kudu introspeksi diri, terimakasih temen-temen ku yang lain yang selalu ngingetin kalo aku berbuat salah tetapi tidak menghakimi *peluk satu-satu*. Menyalahkan orang lain lebih gampang tapi terkadang lupa mengoreksi diri sendiri. Orang yang salah belum tentu merasa salah dan selalu mencari alasan untuk pembenaran dirinya, semoga aku gak seperti itu. Sebelum menyalahkan orang lain ada baiknya berfikir tenang dan menganalisa apa kira-kira yang menyebabkan perselisihan supaya tidak hanya main salah-salahan yang akhirnya tidak ada solusinya.

Komentar

  1. iya gus, boleh baik tapi jangan sampe dimanfaatin orang lain yg bisa merugikan diri sendiri.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih :D

Postingan populer dari blog ini

Learning about Adulting with Jonathan End

Rabu 22 Januari kemarin datang ke acaranya Jonathan End di Kafe Relasi. Awalnya gak tau Bang Joni ke Jogja. Setelah gagal ketemu tanggal 15 desember di Surabaya karena gak jadi liburan di rumah akhirnya ketemu di Jogja. Hahaha tema yang diobrolin kali ini adalah Adulting, apasih adulting itu? dari pemahamanku sesuai yang disampaikan Bang Joni “Apapun keputusan yang diambil sudah dipikirkan dengan hati-hati. Mempertimbangkan resiko apa yang dihadapi. Sehingga tidak menyesal kemudian hari”. Ada beberapa poin yang sempat aku catat. Ada rekaman audionya dua jam tapi belum aku dengerin lagi, belum nemu aja moodnya hahaha ·          Listen to People Who Matters Seringkali kita terlalu mendengarkan apa kata orang lain yang sebenernya gak terlalu penting dalam hidup kita. Mereka yang komentar terkadang hanya basa-basi sambil lalu tapi kita pikirin lama hingga mempengaruhi hidup kita. Yang komentar aja paling udah lupa  sedangkan kita masih kepik...

Con·sent

Beberapa hari ini sering liat seliweran di twitter bahas tentang consent sex vs sex setelah nikah. Satu kubu bela argumen bahwa melakukan sex itu urusan diri masing-masing asal ada consent yaudah gas, sedangkan kubu satunya consent aja gak cukup karena mau sama mau ketika berhubungan sex belum tentu akan aman kedepannya. Bilangnya mau sama mau, habis melakukan sex ternyata ditinggal jadi rasanya seperti habis dilecehkan, belum lagi misal kecolongan hamil terus cowoknya gak mau tanggung jawab kabur. Lihat berita bayi dibunuh setelah dilahirkan atau dibuang sembarang tempat karena orang tua belum siap untuk membesarkan si bayi, akibatnya bayi tidak bersalah yang menjadi korban. Lagi-lagi tidak bisa sesederhana karena udah ada consent terus selanjutnya tidak akan terjadi permasalahan. Consent tidak bisa hanya berpegangan dengan kata "iya, mau" tapi pertimbangan umur, pemahaman tentang tubuhnya dan hubungan sex itu sendiri juga penting. Bagaimana kalo mau hanya karena ta...

SUPERNOVA

Dua hari yang lalu berhasil menyelesaikan novel terakhir serial SUPERNOVA, Inteligensi Embun Pagi. Awal tau serial ini sekitar dua tahun yang lalu ketika Dee Lestari meluncurkan novel Gelombang, saat itu diajakin temen ikut meet and greet sama talkshow nya Dee kalo gak salah yang ngadain anak-anak UGM. Novelnya Dee yang pernah tak baca cuma Perahu Kertas zaman SMA, yaudah sebelum hari H beli novel Gelombang minimal tau lah apa ceritanya jadi pas ikut Talkshow gak bengong. Seharusnya sih kudu baca dari serialnya yang pertama, Ksatria Putri dan Bintang Jatuh tapi gak apa-apa nanti kalo menarik baru baca dari awal. Selesei baca Gelombang yang ada difikiran saat itu adalah gue kudu baca dari serial yang pertama, sumpah ceritanya keren meskipun kadang mikir keras juga hahaha Untung ada temen yang punya novelnya Ksatria Putri dan Bintang Jatuh, Akar dan petir yaudah gue pinjem terus beli Partikel karena gak ada yang punya. Kemudian jatuh cinta sama serial SUPERNOVA uwaaa~ *lari-lari kelilin...