Ini ceritanya gue mau mereview
film yang barusan gue tonton, sebenernya sih bukan film baru dan nontonya gak
di bioskop, tapi di convention hall Uin Sunan Kalijaga yogyakarta *yeah my
university :D*. Judulnya “SOEGIJA” film by Garin Nugroho. Familiar sih sama
nama Garin tapi jujur gue lupa filmnya dia apa aja ,haha Tadi pas Bedah filmnya
sang Produsernya Pak Tri Geovanni juga bilang kalo ini adalah film pertamanya Garin yang settinganya buat dalam negeri
biasanya dia sih bikin film buat pasar luar. Nah gimana sih cerita filmnya ini
ada sinopsis film yang gue ambil dari selebaran promo filmnya :
“Sebuah film tentang Pahlawan
Nasional Mgr.Albertus Soegijapratama SJ. Ia lahir di saat yang sangat penting
ketika bangsa Indonesia ini memplokamirkan kemerdekaannya sebagai sebuah
bangsa. Sebagai pemimpin agama memang ia tidak mungkin hadir dalam sebuah
perang fisik, tetapi justru keunggulan diplomasinya dan keteribatannya dalam
peristiwa-peristiwa kemanusiaan di negeri inilah yang membuat Soegija mampu
hadir di setiap peristiwa penting bangsa ini. Ia berdiri bersama bangsa ini di
saat kelahirannya sebagai sebuah bangsa...INDONESIA.
Film ini ingin melukiskan
kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaan bangsa Indonesia (1940-1949).
Adalah Soegija (Nirwan Dewanto) yang diangkat menjadi Uskup Pribumi pertama
dalam Gereja Katolik Indonesia. Baginya kemanusiaan itu satu kendati berbeda
bangsa,asal usul, dan ragamnya.
Dan perang adalah kisah
terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia tahun
1942, Mariyem (Annisa Hertami) terpisah dari Maryono(Abe),kakaknya. Ling-ling (Andrea
Reva) tepisah dari ibunya (Olga Lydia).
Tampaknya keterpisahan itu tidak
hanya dialai oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga para penjajah.
Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara jepang yang penganut Budhist, ia tidak
pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang. Robert (Wouter
Zweers), seorag tentara belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang
hebat, akhirnya juga disentuh hatiya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di
medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu pada ibunya. Di tengah perang pun
Hendrick (Wouter Braaf) meneukan cintanya yang tetap tak mampu ia memiliki
karena perang.
Soegija ingin menyatukan kembali
kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan
perang dan kematian.” *terusannya liat aja filmnya sendiri ^.^*
Nah ini adalah quote yang ada di
film berdasarkan tulisan di buku diarinya Soegija :
Kemanusiaan itu satu.
Kendati berbeda
bangsa, asal-usul dan ragamnya,
Berlainan bahasa dan
adat-istiadatnya,
Kemajuan dan cara
hidupnya,
Semua merupakan satu
keluarga besar.
(Mgr.Alb.Soegijapranata
SJ)
*lagi-lagi seperti
kata Pandji Pragiwaksono bukan dijadikan satu tapi dijadikan bersatu*
Apa artinya terlahir
sebagai bangsa yang merdeka,
jika gagal untuk mendidik diri sendiri.
(Mgr.Alb.Soegijapranata
SJ)
“Dirimu adalah
bangsamu”
Tadi pak Tri Geovanni bilang
kalau Film ini berbicara dan bercerita dari sudut pandang lain, tidak
menunjukkan kekerasan. Perang itu merusak kemanusiaan/kehidupan, perang itu
mengakibatkan perpisahan ibu dan anak, kakak dan adik, dll juga mengakibatkan
kerusakan dimana-mana ,trauma berkepanjangan. Indonesia sekarang ini
mengerikan, pertikaian dan kekerasan dimana-mana banyak korban berjatuhan, dan
yang menyedihkan adalah banyak korbannya adalah pelajar remaja. *merinding*
Film Soegija ini memang film yang
menceritakan tentang tokoh kristen dan yang membuat juga pusat kegiatan
kristen. Untuk mencegah anggapan bahwa film ini sebagai dakwah kristen (kristenisasi)
tim produksi memutuskan untuk memilih sutradara muslim *Garin*. Karena tim
produksinya tidak ingin berdakwah kristen melalui film. Apalagi menurut gue
film ini menunjukkan nasionalisme dan kemanusiaan. Sekian dulu review dari gue
capek ngetiknya ,haha :D
Komentar
Posting Komentar
Terimakasih :D